pustaka's Blog



Segmentasi Psikografis Untuk Pemakai Perpustakaan

Pendahuluan

Marketing is 90% common sense.

Sebaik apapun produk dan layanan perpustakaan, tidak akan banyak gunanya bila tidak banyak orang yang tahu dan menggunakannya. Karena itu diperlukan sebuah proses yang bernama Pemasaran (marketing). Pemasaran adalah ilmu dan seni bagaimana mengelola suatu produk dan layanan agar bisa sampai kepada target pemakai atau konsumen yang diinginkan. Dikatakan ilmu karena pemasaran menggunakan metode sains dalam penerapannya. Hanya saja, karena kompleksitas aktifitas pemasaran, diperlukan pengalaman dan kreatifitas dalam melakukannya, itulah seni. Itu pula barangkali sebabnya, buat sebagian orang, marketing is fun.

Buat mereka yang bergelut di perpustakaan khusus, tidak ada aktifitas pemasaran maka tidak ada pemakai, berarti tidak ada perpustakaan. Artinya tidak ada pekerjaan alias menganggur.

Ada tiga tahap dalam memasarkan layanan perpustakaan. Pertama, merencanakan strategi pemasaran. Kedua, membuat bentuk layanan atau produk. Ketiga, implementasi rencana pemasaran.

Banyak orang berpikir bahwa pemasaran adalah kegiatan promosi. Ini tidak tepat, karena promosi tidak banyak gunanya bila tidak tahu siapa target pemakainya dan pesan apa yang ingin disampaikan dari promosi tersebut. Karena itu, strategi merupakan hal yang penting dalam memasarkan layanan perpustakaan.

Dalam membuat strategi pemasaran, salah satu faktor utama adalah mengetahui siapa calon pemakai perpustakaan. “Know Your Customer” tidak hanya berlaku untuk organisasi profit, tetapi juga non-profit seperti perpustakaan. Dengan mengetahui peta calon pemakai layanan perpustakaan, pustakawan bisa membuat servis atau produk yang tepat, atau memilah-milah mana pemakai yang akan diutamakan mana yang tidak.

Ada tiga hal yang perlu diketahui dari calon pemakai perpustakaan. Pertama, kebutuhan informasi. Tidak hanya tahu tentang subjek apa yang diinginkan, tetapi juga waktu datang ke perpustakaan, jenis informasi apa yang harus tersedia, dan lain-lain. Kedua, Faktor apa saja yang diinginkan oleh pemakai tentang layanan perpustakaan yang ideal. Apakah keramahan, ketersediaan informasi, kecepatan respon, dan lain-lain. Ketiga, layanan dan produk perpustakaan apa saja yang diinginkan oleh calon pemakai perpustakaan.

Proses memetakan pemakai perpustakaan disebut segmentasi. Segmentasi membantu pustakawan menyediakan layanan yang tepat untuk melayani beragam kebutuhan pemakai. Ada empat metode untuk melakukan segmentasi yang lazim digunakan di institusi profit:

●      Segmentasi geografis. Contoh: berdasarkan daerah/region, pedesaan/perkotaan.

●      Segmentasi demografis. Contoh: berdasarkan umur, pekerjaan, kewarganegaraan, agama.

●      Segmentasi psikografis. Contoh: kelas sosial dan tipe personalitas.

●      Segmentasi tingkah laku. Contoh: intensitas penggunaan produk, loyalitas terhadap merek.

Meskipun metode segmentasi diatas biasa digunakan untuk institusi profit, institusi non-profit seperti perpustakaan pun bisa menggunakannya. Contoh:

●      Segmentasi geografis. Contoh: berdasarkan lokasi, kota atau gedung yang berbeda.

●      Segmentasi demografis. Contoh: berdasarkan fungsi, disiplin ilmu, bahasa.

●      Segmentasi psikografis. Contoh: tingkatan manajemen.

●      Segmentasi tingkah laku. Contoh: penggunaan layanan, browser yang digunakan.

Dari ragam metode segmentasi diatas, segmentasi psikografis merupakan salah satu yang populer untuk pemasaran produk komersial di Indonesia. Menarik karena berusaha segmentasi pemakai/konsumen didasarkan pada soft data seperti nilai yang dianut dan gaya hidup, bukan pada hard data seperti umur, jenis kelamin dan pekerjaan.

Di lingkungan organisasi non-profit seperti perpustakaan di Indonesia, psikografis relatif masih sangat jarang digunakan. Tulisan ini mencoba mengulas lebih detail tentang segmentasi psikografis, bagaimana gambaran implementasinya untuk riset pemakai perpustakaan. Sehingga pustakawan bisa menyediakan layanan yang tepat sesuai kebutuhan pemakainya.

Segmentasi Psikografis

Segmentasi Psikografis (selanjutnya disingkat SP) adalah metode memilah-milah suatu pasar kedalam segmen-segmen nilai dan gaya hidup (value and lifestyle) yang dianut. Dengan asumsi bahwa dalam lingkungan yang homogen sekalipun, pola akfititas, konsumsi dan perilaku tiap orang bisa berbeda-beda, tergantung nilai dan gaya hidupnya. SP mencoba mengelompokkan dinamika preferensi dan pilihan konsumen/pemakai berbasiskan kecederungan psikologis.

Contoh: satu angkatan 2006 mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Ilmu Perpustakaan UI. Meskipun mereka adalah satu angkatan dan kuliah pada jurusan yang sama (homogen), tetapi nilai dan gaya hidup yang dianut akan mempengaruhi pola kunjungan ke perpustakaan. Misalnya: pola konsumsi, pola kunjungan ke perpustakaan, pola kunjungan ke tempat ibadah, pola belajar, dan lain-lain. Mahasiswa/i yang aktifis organisasi kemahasiswaan kampus, tiap pagi hari akan mampir ke perpustakaan, yang dibaca pertama kali adalah surat kabar bagian politik dan ekonomi, tetapi lama kunjungan tidak lebih dari 1 jam. Sedangkan mahasiswa/i yang lebih berorientasi studi, tiap hari akan ke perpustakaan, tetapi sore hari, dengan lama kunjungan lebih dari 2 jam, dengan jenis bacaan yang beragam, tetapi kebanyakan yang terkait dengan mata kuliah yang sedang diambil.

SRI Consulting Business Intelligence (http://www.sric-bi.com/VALS) mencoba membagi konsumen berdasarkan SP ke dalam delapan kategori, yaitu:

1.      Innovators.

Innovator adalah orang yang sukses, berwawasan luas dengan rasa percaya diri yang tinggi. Karena mereka mempunyai sumberdaya yang lebih dari cukup. Mereka pemimpin perubahan, dan terbuka terhadap ide-ide dan teknologi baru. Innovators merupakan konsumen yang sangat aktif, dan pola pembelanjaan mereka mencerminkan cita rasa yang tinggi atau produk dan layanan eksklusif. Citra merupakan hal yang penting bagi Innovators, bukan sebagai bukti status atau kekuasaan but sebagai ekspresi cita rasa, independensi dan personalitas. Innovators biasanya pimpinan bisnis dan pemerintahan yang sedang menanjak karirnya dan mereka mencari tantangan-tantangan baru.

2.      Thinkers

Thinkers termotivasi oleh hal-hal yang ideal. Mereka orang-orang yang matang dan reflektif serta menghargai pengetahuan dan rasa tanggungjawab. Mereka biasanya berpendidikan baik, dan aktif mencari informasi untuk membantu proses pengambilankeputusan. Mereka terus melakukan update informasi mengenai kejadian didunia maupun nasional dan terus mencari peluang untuk memperluas pengetahuan mereka. Thinkers cukup respek terhadap institusi status quo, tetapi terbuka akan ide-ide baru. Walaupun income mereka lebih dari cukup untuk membeli banyak hal, Thinkers orang yang konservatif, konsumen yang praktis; mereka mencari sesuatu yang tahan lama, fungsional dan nilai lebih dari produk yang mereka beli.

3.      Achievers

Termotivasi oleh keinginan akan pencapaian, Achievers mempunyai gaya hidup yang berorientasi tujuan dan komitmen yang mendalam untuk karir dan keluarga. Kehidupan sosial mereka mencerminkan hal ini dan terstruktur antara keluarga, tempat ibadah, dan pekerjaan. Achievers merupakan orang yang konvensional, dan secara politik respek terhadap otoritas dan status quo. Mereka menghargai konsensus, sesuatu yang bisa diperhitungkan, dan stabilitas dibanding resiko, keintiman dan pencarian diri. Dengan banyak keinginan dan kebutuhan, Achievers merupakan konsumen yang aktif. Image merupakan hal yang penting bagi Achievers. Mereka suka produk dan layanan yang sudah mapan, prestise yang mencerminkan sukses mereka. Karena kehidupan mereka yang sibuk, mereka sangat tertarik terhadap alat-alat yang bisa membantu mereka menghemat waktu.

4.      Experiencers

Experiencers termotivasi oleh ekspresi diri. Sebagai konsumen yang muda, antusias, dan impulsif, Experiencers cepat antusias akan hal-hal baru tetap cepat pula bosan. Mereka mencari variasi dan kesenangan, suka akan hal baru yang diluar pakem dan beresiko. Energi mereka banyak dihabiskan ditempat-tempat fitnes, olahraga, aktifitas luar ruangan, dan aktifitas sosial. Experiencers merupakan konsumen yang royal dan menghabiskan sebagian besar penghasilannya pada fashion, hiburan, dan bersosialisasi. Pola pembelanjaan mereka mencerminkan pada hal-hal yang terlihat bagus dan keren.

5.      Believers

Seperti juga Thinkers, Believers termotivasi oleh hal-hal yang ideal. Mereka konservatif dan konvensional dengan keyakinan yang kongkrit berbasiskan pada hal-hal yang tradisional dan mapan seperti: keluarga, agama, komunitas dan negara. Mereka mengikuti rutinitas yang sudah mapan dan terorganisasi disekitar rumah, keluarga, komunitas, dan organisasi sosial dan religius dimana mereka berada. Sebagai konsumen mereka bisa diprediksi; Mereka memilih produk dan merek yang sudah mapan dan secara umum merupakan konsumen yang loyal.

6.      Strivers

Strivers kelompok orang yang trendi dan suka hal-hal yang menyenangkan. Karena mereka termotivasi dengan pencapaian, Strivers perhatian dengan opini dan persetujuan dari rekan-rekannya. Uang merupakan ukuran kunci sukses mereka. Mereka suka produk-produk yang diasosiasikan sebagai produknya orang kaya. Banyak dari mereka melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang punya pekerjaan daripada karir, serta kekurangan skill dan fokus yang membuat mereka sulit untuk berkembang. Strivers merupakan konsumen aktif karena aktifitas berbelanja merupakan aktifitas sosial dan kesempatan untuk menunjukkan kepada rekan mereka kemampuan mereka untuk membeli. Sebagai konsumen, mereka impulsif sejauh kondisi keuangan mereka memungkinkan.

7.      Makers

Seperti Experiencers, Makers termotivasi oleh expresi diri. Mereka mengekspresikan diri mereka dan menikmati kehidupan dengan membangun rumah, membesarkan anak-anak, memperbaiki mobil, menanam tumbuhan dan mempunyai cukup skill dan enerji untuk to membuat keinginan mereka terpenuhi. Makers adalah orang-orang yang praktis yang mempunyai skill konstruktif dan menghargai diri sendiri. Mereka tinggal dalam konteks tradisional sebuah keluarga, pekerjaan, dan rekreasi fisik, serta mempunyai sedikit interes terhadap hal-hal diluar itu. Makers curiga terhadap ide-ide baru. Mereka respek terhadap otoritas pemerintah dan buruh yang terorganisasi, tetapi tidak suka campur tangan pemerintah terhadap hak-hak individu. Mereka tidak terkesan dengan kepemilikan materi jika tidak praktis dan fungsional. Karena mereka menghargai nilai dan fungsional dari suatu kepemilikan, mereka membeli sesuatu yang memang dibutuhkan dan fungsional.

8.      Survivors

Survivors hidup dengan penuh keterbatasan sumberdaya. Mereka sering merasa bahwa hidup berubah terlalu cepat. Mereka merasa nyaman jika merasa familiar dan perhatian dengan keselamatan dan keamanan. Karena mereka harus fokus pada kebutuhan daripada keinginan, Survivors tidak menunjukkan motivasi dasar yang kuat. Survivors adalah konsumen yang berhati-hati. Mereka mewakili perkembangan pasar terbaru untuk hampir semua produk dan layanan. Mereka loyal terhadap merek favorit, terutama jika mereka bisa membeli dengan diskon.

Implementasi di Perpustakaan

Barangkali pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengimplementasikan SP pada  pemakai perpustakaan. Cara paling mudah adalah dengan melihat best practice yang telah dilakukan perpustakaan lain.

Perpustakaan Nasional Singapura (National Library Board, selanjutnya disebut NLB) pada tahun 2004 pernah melakukan survei “Non-User Survey & Segmentation Study”. Survei didasari kebutuhan untuk memperbesar kapasitas pembelajaran negara Singapura, agar makin kompetitif dan meningkatkan kemakmuran masyarakat. Perpustakaan publik diposisikan sebagai bagian integral dari infrastruktur pembelajaran nasional, yang secara aktif mendukung Singapura sebagai learning nation. Selain itu NLB punya visi yang lebih ambisius yaitu membangun sistem perpustakaan kelas dunia yang terjangkau, nyaman, aksesibel, dan berguna.

Pertama, NLB mencoba menghitung market share-nya dengan membandingkan target users dengan non-users. Tujuan marketing berikutnya adalah untuk memperluas mindshare dan timeshare user-nya.

Mindshare adalah keanggotaan aktif dan pemanfaatan perpustakaan. Pada tahun keuangan 2003, NLB telah mempunyai keanggotaan perpustakaan aktif 1.7 juta (0.63 anggota perkapita). Pada tahun 2004 meningkat menjadi 0.97 perkapita. Total kunjungan perpustakaan pada 2003 adalah 34.7 juta (9.1 kunjungan perkapita) dibandingkan 5.5 juta kunjungan pada 1994. Peminjaman buku tumbuh dari 10.1 juta item pada 1994 menjadi 34.8 juta item pada 2003 (9.5 pinjaman perkapita). Kualitas layanan juga meningkat (membandingkan compliments dengan dengan complaints). Dari 0.3:1 pada 1999 menjadi 17:1 pada 2002. Indeks kepuasan kustomer juga meningkat dari 3.63 pada 1999 menjadi 4.24 pada 2003. Melebihi standar layanan publik Singapura yaitu 4.00.

Timeshare adalah kemampuan NLB agar pemakainya menghabiskan waktu berharganya di perpustakaan dibandingkan dengan penggunaan waktu alternatifnya diluar seperti menonton sinema dan berbelanja.

Meski telah menjadi standar de-facto dan pemimpin pasar untuk layanan perpustakaan dan membaca, NLB sadar masih merasa belum memaksimalkan potensi pasar. Diperlukan strategi pemasaran yang bisa menjawab tantangan perubahan yang terjadi di masyarakat. Pemasaran tradisional memang berkisar penjualan produk fisik dan terbatas untuk institusi dalam menjual produknya. Sedangkan masa sekarang, pemasaran lebih kepada bagaimana sebuah pesan bisa sampai kepada konsumen dan meyakinkan mereka untuk menggunakan sebuah layanan. Dalam konteks layanan publik, setiap warganegara adalah homogen dan konsumen yang setara dalam mendapatkan layanan.

Sebagai sebuah institusi publik, perpustakaan harus menyediakan “sesuatu untuk semua orang” atau bahkan “semua untuk semua orang“. Untuk menjawab ini, perpustakaan harus mendefinisikan segmen pemakai/konsumennya terlebih dahulu. Ini untuk memudahkan perpustakaan untuk mengerti kebutuhan pemakai dan bagaimana memenuhinya. Diputuskan pada Oktober 2004 untuk melakukan survei “Non-User Survey & Segmentation Study” sebagai alat bantu memetakan segmentasi pemakai/konsumen.

Berikut profil segmen pemakai/konsumen berdasarkan SP dari hasil survei tersebut:

Karakteristik Segmen Keanggotaan Perpustakaan Gaya Hidup Membaca
Career minded

Middle age, mempunyai pendidikan sekunder, 73% menikah dan mempunyai anak, menganggap perpustakaan sebagai sumber informasi utama, menganggap perpustakaan sebagai tempat utama bagi anak-anak, membaca hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan dan lain-lain yang bersifat rekreasi.

79% 70% merupakan pembaca tetap; membaca yang berhubungan dengan pekerjaan dan yang bersifat rekreasi.
Active Info-Seeker

56% pemakai reguler, 25% berkunjung seminggu sekali, punya keinginan yang tinggi untuk mencari informasi, membaca yang terkait dengan pekerjaan, juga yang tidak terkait dengan pekerjaan dan materi-materi untuk self-improvement.

66% Punya keinginan yang tinggi untuk mencari informasi, membaca yang terkait dengan pekerjaan, juga yang tidak terkait dengan pekerjaan dan materi-materi untuk self-improvement.
Self-supplier

Pembaca reguler dan aktif, 33% lulusan universitas, kompeten bidang TI, pembeli buku, sebagian besar jarang dan merupakan non-user perpustakaan.

77% Pembaca reguler dan aktif; lebih suka membeli daripada meminjam buku; 54% membaca 1-3 buku/bulan dan 28% membaca 3-5 buku/bulan.
Casual reader

64% merupakan peminjam buku perpustakaan, 78% pemakai reguler, menghabiskan waktu senggangnya dengan melihat TV dan mendengar musik.

84% 78% pembaca reguler; bersikap positif terhadap kegiatan membaca.
Narrow-focused learner

Sebagian besar pelajar, 54% dengan pendidikan tersier (tertiary education), 72% mengombinasikan kunjungan perpustakaan sekalian bertemu dengan teman.

88% Membaca sebagai bagian dari kurikulum pendidikan
Low motivator

50% minimal berpendidikan tinggi atau politeknik, 56% mengunjungi perpustakaan 2-3 kali/bulan, 17% tidak pernah mengunjungi perpustakaan.

63% Bersikap sangat tidak positif terhadap kegiatan membaca
Facilitator

Sebagian besar pekerja kerah biru (buruh), ibu rumah tangga, dan pesiunan, 60% wanita, 18% tidak mempunyai pendidikan formal, 37% pendidikan dasar, 53% tidak pernah mengunjungi perpustakaan, menempatkan perpustakaan sebagai tempat ideal untuk anak-anak.

33% 74% adalah non-readers; tidak tertarik dengan pembelajaran yang tidak berhubungan dengan pekerjaan

Dari hasil studi SP, NLB kemudian membuat strategi pemasaran perpustakaan. Yaitu:

Strategi Untuk Internal dan Eksternal

1.      Pengembangan Staf

NLB mulai dengan program pengembangan pustakawan yang memetakan proses pengembangan karir di NLB. Melakukan analisis kebutuhan pelatihan, NLB kemudian mengumpulkan informasi yang relevan bagi pengembangan kompetensi staf.

2. Evaluasi Tempat dan Positioning

Tidak hanya mentransformasi pustakawan, tetapi juga mentransformasikan tempat perpustakaan menjadi lebih menonjol, mudah terlihat, mudah diakses, dan terletak ditengah-tengah komunitas pemakainya. Dengan arsitektur baru yang mencerminkan semangat pembelajaran, bisa mengubah image perpustakaan dari tempat yang dingin, tidak atraktif dan tidak bersahabat menjadi sebagai tempat yang menyenangkan, keren, dan trendi. Yang juga tidak kalah penting adalah koleksi harus up-to-date, ketersediaan tingggi, beragam format, termasuk buku dan majalah best-seller. Dengan visi baru yang ambisius, NLB memposisikan dirinya tidak menjadi distributor buku tetapi partner dalam perjalanan pembelajaran individu.

Strategi Teknologi

NLB yakin bahwa teknologi adalah alat bantu yang efektif dan efisien untuk mencapai layanan yang prima, bukan menjauhkan pemakai dari perpustakaan. Untuk kenyamanan dan penghematan waktu misalnya, NLB sudah memanfaatkan teknologi untuk pengembalian koleksi terautomasi menggunakan frekuensi radio, dan layanan self-check. NLB juga menyediakan layanan perpustakaan dijital (eLibraryHub), membuat perpustakaan bisa diakses setiap warganegara hingga ke ruang tidur, dan mengakses katalog perpustakaan dan konten elektronik lain via internet, kapanpun dan dimanapun.

Kolaborasi Dengan Media

Media dalam perspektif NLB bukanlah “paparazzi” tetapi partner utama dalam usaha re-branding perpustakaan. NLB secara aktif mengajak dan berkolaborasi dengan media dalam banyak program-program besar. Dalam setiap acara kampanye perpustakaan misalnya, media diberi tempat khusus dan terhormat.

Contoh Kuesioner SP

Survei SP paling sering dilakukan dengan metode kuesioner. Berikut ini beberapa contoh isi pertanyaan kuesioner SP.

1.      Saya lebih sering tertarik dengan teori.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

2.      Saya suka orang dan benda yang luar biasa.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

3.      Saya suka variasi didalam hidup saya.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

4.      Saya senang membuat sesuatu yang bisa saya gunakan tiap hari.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

5.      Saya mengikuti tren dan fashion terbaru.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

6.      Seperti yang dikatakan dalam alkitab, dunia diciptakan dalam 6 hari.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

7.      Saya suka berada dalam suatu kelompok.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

8.      Saya suka belajar tentang seni, budaya dan sejarah.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

9.      Saya sangat tertarik hanya pada sebagian kecil hal.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

10.  Saya lebih suka membuat sesuatu daripada membelinya.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

11.  Saya berpakaian lebih rapi daripada sebagian besar orang.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

12.  Saya memiliki kelebihan dibanding orang lain.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

13.  Saya merasa diri saya adalah seorang intelektual.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

14.  Saya musti mengakui bahwa saya suka pamer.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

15.  Saya suka mencoba hal-hal baru.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

16.  Saya sangat tertarik bagaimana benda-benda mekanik seperti mesin, bekerja.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

17.  Saya suka berpakaian model terbaru.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

18.  Terlalu banyak seks di televisi belakangan ini.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

19.  Saya suka memimpin orang lain.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

20.  Saya suka melewati setahun atau lebih di daerah pedesaan.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

21.  Saya musti mengakui bahwa ketertarikan sempit dan terbatas.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

22.  Saya suka membuat benda-benda dari kayu, metal dan ragam material lainnya.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

23.  Saya ingin dibilang fashionable.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

24.  Saya suka tantangan melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

25.  Saya suka belajar banyak hal meskipun tidak banyak gunanya buat saya.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

26.  Saya suka membuat sesuatu dengan tangan saya sendiri.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

27.  Saya suka melakukan banyak hal yang baru dan berbeda.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

28.  Saya suka melihat-lihat di toko otomotif dan pertukangan.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

29.  Saya ingin memahami bagaimana bumi ini bekerja.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

30.  Saya suka hidup saya hampir sama dari minggu ke minggu.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

Penutup

Sudah saatnya perpustakaan menggunakan tehnik pemasaran modern yang terbukti sukses dan digunakan di banyak organisasi profit. Strategi pemasaran yang baik membutuhkan gambaran yang tepat tentang profil konsumen atau pemakainya.

Segmentasi Psikografis adalah salah satu metode yang banyak digunakan untuk memetakan konsumen/pemakai berdasarkan nilai dan gaya hidup yang dianut. Metode ini bisa digunakan untuk lingkungan institusi non-profit seperti perpustakaan. Perpustakaan Nasional Singapura (NLB) sudah terbukti mampu membuat strategi pemasaran yang lebih baik kepada pemakainya dengan menggunakan metode ini.

Mudah-mudahan metode ini juga bisa dimanfaatkan oleh banyak institusi perpustakaan di Indonesia untuk membuat strategi pemasaran yang lebih baik. Dengan begitu diharapkan bisa memberikan layanan yang tepat untuk pemakainya, dan membangun lingkungan pembelajaran buat masyarakat.


Bibliografi

SRI Consulting Business Intelligence. VALS: psychology of markets, URL: http://www.sric-bi.com/VALS/

Varaprasad, N; Johnson Paul and Lena Kua. Gaining Mindshare and Timeshare: Marketing Public Libraries, URL: http://eprints.rclis.org/archive/00004603/01/GainingMindshare&Timeshare_010905_.pdf

Scammell, A., ed. Handbook of Special Librarianship and Information Work. London, Aslib, 1997


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: